Pengembangan Proyek

Hadirnya Megapolitan di dunia pengembang kawasan pada 1979 dimulai dengan pembangunan Megapolitan Cinere Estate seluas 55 ha. Diawali dengan pembangunan ini menjadi tonggak sejarah bagi Sudjono dan Melani mengawali usaha mereka mewujudkan mimpi membangun sebuah kawasan, sebuah kota "Megapolitan". Di sinilah mereka mulai beralih dari property agent menjadi developer. Waktu itu Cinere adalah sebuah daerah pinggiran kota Jakarta yang karena luasnya dibagi-bagi menjadi blok-blok seperti blok A, blok B dan seterusnya. Dan lahan yang dikuasai Megapolitan adalah Blok G, H dan J, karena lokasinya berdekatan maka ketiga blok ini mereka satukan dalam satu kawasan dengan nama Megapolitan Cinere Estate.

Masih di daerah Cinere, mereka juga mengembangkan beberapa blok yang meskipun tidak besar namun karena tersebar merata mampu berkontribusi mengibarkan nama Megapolitan, hingga dikenal sebagai pengembang utama di kawasan ini. Sebanyak tak kurang dari 80% lahan di Cinere memang dikembangkan oleh Megapolitan hingga tak aneh jika Cinere identik dengan Megapolitan, siapaun makfum akan hal ini.

Mulai dari Blok A yang terdiri dari peruhaman dan deretan pertokoan (ruko), Blok K juga area perumahan dan pertokoan, kawasan Blok M yang dikenal dengan Mega Cinere juga dibangun perumahan mewah serta jajaran ruko.

Kebutuhan pasangan muda akan hunian mungil yang memiliki akses sebagai rumah tumbuh juga coba diadaptasi Megapolitan dengan menghadirkan Griya I pada 1982. Rumah-rumah mungil dengan desain menarik yang dipercantik dengan kanopi berwarna-warni menjadikan proyek seluas 10 ha ini habis terjual hanya dalam hitungan hari saat dipasarkan.

Sukses di Griya 1 semakin meyakinkan Megapolitan bahwa mereka berada di atas "rel" yang tepat. Memberikan nilai lebih pada kawasan yang ditawarkan adalah "bonus" yang senantiasa diberikan Megapolitan, untuk itu ketika mencanangkan proyek baru mereka memberikan nama Cinere Country. Kawasan Cinere yang berhawa sejuk dengan air tanah yang memadai menginspirasi mereka menciptakan kawasan hunian yang asri. Akhirnya di proyek ini mereka menggagas sebuah kawasan yang dipenuhi pohon buah-buahan. Jadilah kawasan hunian yang diberi tagline "Cinere Country, Berbuah Setiap Hari"

Pasangan yang tak pernah kehabisan idealisme ini memberanikan diri pada 1987 membangun perumahan mewah, Puri Cinere. Diantara proyek-proyek perumahan yang dikembangkan Megapolitan di Cinere, Puri Cinere inilah yang menjadi masterpiecenya. Hingga kini penghuni kawasan ini memiliki pride tersendiri, karena jika menyebut nama Puri Cinere sebagai lokasi tinggal maka siapapun maklum bahwa ini adalah kawasan bergengsi.

Masih di Cinere pada 1990 dikembangkanlah Griya Cinere 2, perumahan yang memiliki akses langsung dengan jalan raya Cinere dan dibentengi dengan deretan ruko disepanjang jalan utamanya yang menjadi "pagar" perumahan. Desain rumah yang mengadaptasi hunian perkotaan modern "maizonet", yaitu hunian yang memanfaatkan lahan terbatas semaksimal mungkin dengan tumbuh vertikal menjadikan rumah-rumah di Griya Cinere 2 rumah berdesain modern yang terasa nyaman bagi penghuninya.

Akhirnya setelah 14 tahun menjelajahi Cinere maka pada 1993, setelah mengantongi ijin lokasi yang cukup besar Megapolitan mulai mengembangkan Graha Cinere. Dengan mengusung tipe-tipe rumah berdesain mediteranian yang serasi dengan alam cinere yang asri namun desain rumah bergaya modern (kala itu), Graha Cinere tahap I ini sukses menyedot konsumen, hingga pasukan inhouse sales kala itu riang bergumam "jualan rumah semudah jualan kacang goreng".

Seolah tak pernah kehabisan ide, dan didukung oleh sifat alaminya yang bervisi jauh kedepan, para founder Megapolitan sudah menciptakan system cluster jauh sebelum orang lain memikirkannya. Waktu proyek ini digagas istilah "cluster" memang belum muncul, tapi ide dasar sebuah kawasan tertutup dengan akses terbatas telah berhasil diwujudkan Megapolitan dengan proyek Graha Laguna pada 1995. Sebuah kawasan yang terdiri dari beberapa unit rumah yang halaman setiap rumahnya disatukan dengan taman, play ground dan kolam renang berpasir putih. Sebuah "surga" kecil yang hanya dapat diakses para penghuninya.

Kepiawaian pengolahan lahan juga diadaptasi Megapolitan tidak hanya di area yang luas, di lahan terbatas pun kreasinya dikembangkan, Bukit Griya Cinere berdiri diatas lahan 3 ha dikembangkan pada 1996. Tipikal lahan yang berbukit-bukit justru dimanfaatkan secara maksimal dengan menciptakan kawasan yang mengadopsi tatanan terasering, menjadikan sebuah cluster hunian yang asri dan cantik. Ketika pertama kali diluncurkan rumah-rumah didesain dengan tipe Adobe, sebuah tipe bangunan yang diadaptasi dari rumah-rumah Mexico yang memiliki fasad yang cukup eksotik dan lain daripada yang lain. Namun sejalan dengan berjalannya waktu dan selera konsumen yang telah bergeser maka rumah-rumah di kawasan ini ditawarkan dengan desain yang unik perpaduan dari tipe Mediteranian dan minimalis sehingga tercipta hunian yang mungil namun sangat kompak.

Diawali dari 55 hektar lahan di Cinere kini tak kurang dari 350 ha lahan di Cinere ada dalam penguasaan Megapolitan, sebagian telah terjual, sebagian lagi sedang dibangun dan masih banyak pula yang menanti untuk dikembangkan. Hingga kini Megapolitan menguasai tak kurang dari 80% luas wilayah Cinere, tak heran jika hal ini menjadikan Megapolitan mendapat julukan "rajanya" Cinere. Cinere memang identik dengan Megapolitan.

Tak cepat berpuas diri memang menjadi salah satu motto Megapolitan. Setelah sukses mengembangkan hunian, pada 1993 Megapolitan memberanikan diri mengembangkan pusat perbelanjaan yaitu Mall Cinere.

Sukses di Cinere menghantarkan Megapolitan merambah Bogor pada 1998 dengan Sentra Niaga Cimandala yang merupakan kompleks pertokoan (ruko). Masih di Bogor sebuah perumahan yang bertajuk Tatya Asri Sentul juga dikembangkan diatas lahan tak kurang dari 30 ha pada 1999. Sebuah perumahan yang merupakan perpaduan yang harmonis antara gaya hidup modern dengan keasrian alam sekitarnya menjadikan perumahan ini pilihan ideal.

Bukti nyata kekuatan intuisi yang dipadu dengan perhitungan cermat yang dimiliki Sudjono dan Melani adalah lahirnya mega proyek The Bellagio Residence dan The Bellagio Mansion. Proyek yang digagas pada 2002 ini cukup fenomenal di kalangan dunia bisnis property. Bagaimana tidak, imbas guncangan krisis moneter pada 1997 masih terasa di tahun 2002 hingga geliat bisnis property ikut lesu. Banyak pengembang yang masih mampu bertahan mengerem laju usahanya, Sudjono justru berani tampil dan bertekad "mengakhiri krisis" dengan mulai bangkit. Tak tanggung-tanggung, proyek apartemen mewah di daerah bergengsi Mega Kuningan menjadi tonggak sejarah Megapolitan mengawali bangkitnya geliat bisnis property pasca krismon 1997.

Terbukti hanya dalam waktu 2 bulan sejak diluncurkan hampir 90% terjual. The Bellagio Residence, yang merupakan apartemen dengan 34 lantai, berkonsep 3 in one yaitu Apartment, Boutique Mall dan Office Park serta apartemen super mewah The Bellagio Mansion. Hebatnya kedua mega proyek ini dibangun dan dipasarkan pada saat hampir bersamaan di lokasi bergengsi yaitu area diplomatik kawasan Mega Kuningan. Proyek senilai Rp 1,5 Trilyun ini adalah debut pertama Megapolitan di pasar apartemen mewah namun sudah diacungi jempol semua kalangan. Bagaimana tidak, Bellagio residence melansir 847 unit apartemen mewah serta ratusan office park dan boutique mall juga Bellagio Mansion menggelar 135 unit apartemen exclusive.

Kesuksesan Bellagio menambah keyakinan Megapolitan untuk terus menggeluti pasar apartemen. Ditengah kawasan modern yang terpadu dan berkembang pesat, Karawaci, Urbana University Village dihadirkan dengan luas lahan 3.5 ha. Proyek senilai 400 miliar ini terletak di wilayah Karawaci yang mature, hingga menjadikan proyek ini dekat dengan semua fasilitas kesehatan, pendidikan, hiburan, belanja dan bisnis. Serta berjarak hanya 30 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Urbana University village merupakan proyek apartemen 5 tower yang melahirkan tak kurang dari 1066 unit apartemen dengan 3 tipe yaitu single, single plus dan double bedroom dan berada di bawah pengelolaan Aston Internasional. Proyek ini merupakan proyek pertama di Indonesia dimana hunian bagi mahasiswa yang dikelola oleh manajemen profesional bertaraf internasional. Apartemen yang dilengkapi dengan wifi, keamanan 24 jam, klinik & apotik, laundry, minimarket, hingga foodcourt & cafe ini sangat ideal baik sebagai hunian maupun sebagai lahan investasi. Garansi sewa adalah sebuah tawaran sangat menarik bagi para investor yang mengharapkan "return of investement" dengan pasti dan cepat.

Saat ini Megapolitan, mulai memasarkan mega proyek terbarunya, Cimandala City of Inspiration. Dengan luas lahan ±17 ha yang berada tepat dipinggir jalan raya Jakarta-Bogor proyek ini akan digagas dan disulap menjadi superblok yang mengusung konsep "one stop lifestyle living" yang menggabungkan area hunian, komersial, lifestyle & entertainment yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Cimandala City merupakan sebuah kawasan yang modern namun ramah dengan alam. Sebuah kawasan komersial yang dihadirkan dengan sebuah konsep sangat unik, dimana kenyamanan belanja produk berkualitas dengan harga terjangku di shopping center sangat dekat dengan kemewahan gaya hidup modern yang ditawarkan shopping arcade & lifestyle mall serta hotel. Semua massa bangunan niaga ini diblendeed oleh sebuah main plaza dan citywalk menjadikan kawasan ini pusat rekreasi dan hiburan keluarga.

Dua buah kompleks apartemen yaitu lowrise dan middlerise serta sebuah town house yang modern, lengkap dan nyaman menjadikan superblok ini sangat menjajikan pula sebagai hunian. Kehadiran international hospital dan trilingual school menjadikan Cimandala City sebuah kawasan yang sangat potensial dan lengkap.